PAGARALAMPOS.COM - Pada masa penjajahan, hadir sebuah lembaga pendidikan yang berperan penting dalam membentuk arah pendidikan di Indonesia, yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang memiliki arti “pendidikan dasar lanjutan.”
Keberadaan MULO tidak sekadar sebagai sekolah setingkat menengah pertama, tetapi juga menjadi tempat lahirnya kaum terpelajar pribumi di era kolonial Belanda.
Perannya bahkan dianggap sebagai salah satu dasar terbentuknya sistem pendidikan modern di Indonesia saat ini.
Latar Belakang Berdirinya MULO
Pada masa Hindia Belanda, akses pendidikan bagi masyarakat pribumi sangat terbatas. Sekolah umumnya hanya diperuntukkan bagi anak-anak Eropa, keturunan asing, atau kelompok elite tertentu.
Jenjang pendidikan dasar seperti ELS (Europeesche Lagere School) menjadi tahap awal sebelum melanjutkan ke tingkat lebih tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga administrasi menengah dalam sistem pemerintahan kolonial, Belanda kemudian mendirikan MULO.
BACA JUGA:Suzuki XL7 Hybrid, LSUV 7-Seater Irit BBM dengan Teknologi SHVS dan Fitur Canggih
Sekolah ini mulai diperkenalkan sekitar tahun 1914 sebagai bagian dari kebijakan Politik Etis yang bertujuan membuka akses pendidikan bagi pribumi, meskipun tetap dengan berbagai pembatasan.
Tujuan dan Fungsi MULO
MULO setara dengan jenjang SMP saat ini, dengan masa pendidikan sekitar tiga tahun. Kurikulumnya mengacu pada sistem pendidikan Eropa.
Para lulusannya diarahkan untuk mengisi posisi administratif seperti juru tulis atau pegawai kantor, serta memiliki peluang melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi seperti HBS (Hogere Burger School) dan AMS (Algemene Middelbare School).
Selain materi akademik, MULO juga menanamkan kedisiplinan dan pola pikir ala Barat. Mata pelajaran yang diajarkan meliputi bahasa Belanda, matematika, ilmu pengetahuan alam, sejarah, geografi, hingga pendidikan moral.
BACA JUGA:Minerva Electron M-2 Resmi Meluncur! Motor Listrik Baterai Swap yang Bikin Mobilitas Makin Praktis
Akses yang Terbatas
Meskipun membuka peluang pendidikan, MULO tetap tidak bisa diakses oleh semua kalangan. Hanya mereka yang memiliki status sosial tertentu atau menguasai bahasa Belanda yang dapat bersekolah di sana.