Dalam beberapa kondisi, terutama saat perubahan musim, selang waktu antara terbitnya fajar dan terbenamnya matahari bisa sangat singkat. Inilah yang mendasari klaim bahwa puasa di Murmansk hanya berlangsung sekitar satu jam.
Namun, pelaksanaan ibadah di daerah dengan kondisi ekstrem seperti itu biasanya mengikuti ketentuan khusus.
Umat Muslim di kawasan kutub dapat mengikuti waktu dari negara terdekat yang durasi siang-malamnya normal atau merujuk pada jadwal waktu di Mekkah.
Dengan kata lain, periode puasa satu jam bukanlah rutinitas yang terus berlangsung sepanjang Ramadan, melainkan fenomena astronomis yang terjadi dalam waktu tertentu.
BACA JUGA:Wisata Alam di Sulawesi: Menelusuri Taman Nasional dan Pantai Eksotis yang Masih Tersembunyi
Mengapa waktu puasa berbeda di berbagai negara?
Perbedaan durasi puasa antarnegara disebabkan oleh posisi geografisnya terhadap garis khatulistiwa dan kutub.
Negara-negara yang dekat dengan ekuator biasanya memiliki waktu siang dan malam yang cukup stabil sepanjang tahun, yakni sekitar 12 jam.
Sebaliknya, semakin jauh dari ekuator menuju kutub, perbedaan panjang siang dan malam menjadi semakin ekstrem.
BACA JUGA:Menelusuri Keindahan Alam dan Budaya Sumba: Destinasi Wisata Viral yang Memikat Dunia
Saat Ramadan jatuh di musim panas di belahan bumi utara, negara-negara dalam kawasan Eropa dan Arktik dapat mengalami durasi puasa yang sangat panjang.
Sebaliknya, jika Ramadan berlangsung di musim dingin, durasinya bisa jauh lebih singkat.
Fenomena di Murmansk menggambarkan bagaimana posisi geografis dapat memengaruhi waktu ibadah.
Meskipun tampak tidak masuk akal, secara ilmiah hal ini berkaitan erat dengan rotasi dan kemiringan sumbu bumi terhadap matahari.
BACA JUGA:Eksplor Pesona Sulawesi Utara: Destinasi Wisata Penuh Warna dari Gunung hingga Lautan
Cuti Bersama Libur Natal dan Tahun Baru Viral mengenai puasa satu jam di Murmansk menunjukkan betapa uniknya praktik Ramadan di berbagai belahan dunia.