Bodi berotot, rangka terbuka yang estetis, dan single-sided swingarm membuat motor ini tampak seperti gabungan antara seni dan teknologi.
Meski detail final belum diumumkan, tampilan prototipe ini menunjukkan arah desain Honda di masa depan.
E-Compressor: Bukan Turbo, Bukan Supercharger
Banyak yang sempat bingung mengenai teknologi E-Compressor. Namun sistem ini berbeda dari turbocharger maupun supercharger:
BACA JUGA:Satlantas Pantau Kepadatan Arus Lalin di Wisata Gunung Dempo Saat Libur Nataru
Turbocharger menggunakan tekanan gas buang.
Supercharger digerakkan oleh mekanis mesin.
E-Compressor Honda digerakkan sepenuhnya oleh energi listrik.
Artinya, kompresor dapat bekerja independen dari rpm mesin, memungkinkan peningkatan torsi instan dari putaran rendah hingga tinggi tanpa delay.
BACA JUGA:Herman Deru Tinjau Peningkatan Akses Banyuasin–OKI, Perbaikan Jalan Kucuran Bangubsus Rp12 Miliar
Tidak seperti induksi paksa tradisional, sistem ini juga tidak memerlukan intercooler dan dapat diatur lebih bebas untuk penempatan maupun distribusi bobot.
Honda menjelaskan bahwa desain ini memudahkan pengaturan tata letak komponen pada ruang sempit sepeda motor, sekaligus memberikan sentralisasi massa yang optimal.
Akar dan Ambisi Teknologi V3 Honda
Penggunaan mesin V3 bukan hal baru bagi Honda. Di era 1980-an, mereka meluncurkan beberapa model ikonik seperti NS400R, MVX250F, dan motor motocross S500 yang semuanya menggunakan konfigurasi V3.
BACA JUGA:Modal Botol Bekas, Halaman Jadi Cantik! 8 Inspirasi Kebun Cabai Kekinian!
Kini, Honda menghidupkan kembali DNA tersebut, namun dengan pendekatan modern dan teknologi yang jauh lebih canggih.