Ia menjajakan dagangannya di sekitar gerbang Brawijaya Smart School (BSS), Malang.
Sekitar tahun 2014, Cak Man mencoba bereksperimen dengan menggabungkan ide dari cilok dan mendol (makanan khas Malang lainnya).
Hasilnya adalah adonan yang dikepal, ditusuk, lalu digoreng setelah dibalur telur.
Rasanya mirip cilok, tapi lebih gurih karena campuran ayam dan aroma telur yang lebih dominan.
BACA JUGA:5 Jenis Chili Oil Khas dari Berbagai Negara, Nikmati Sensasi Pedas yang Berbeda
Nama Sempol sendiri ternyata diambil dari desa asal Cak Man, yaitu Desa Sempol di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.
Awalnya hanya iseng, namun ternyata jajanan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat.
Perkembangan Sempol Hingga Sekarang
Setelah cukup banyak peminat, popularitas Sempol terus menanjak.
BACA JUGA:Kaya Omega 3, Inilah Manfaat Ikan Teri Untuk Kesehatan Yang Luar Biasa!
Banyak pedagang lain mulai meniru dan menjual makanan ini.
Tak butuh waktu lama, Sempol pun menjadi jajanan yang tersebar luas, bahkan di luar Kota Malang.
Harganya yang murah meriah—hanya 1.000 rupiah per tusuk—menjadi daya tarik tersendiri, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Kini, Sempol tidak hanya menjadi camilan favorit warga Malang, tapi juga menjadi bagian dari kuliner jalanan di berbagai kota di Indonesia.