Para peserta yang memegang bambu dengan tali atau kain merah seringkali mengalami kesulitan mengendalikan bambu tersebut.
Dalam beberapa kesempatan, bambu bisa menyeret peserta seolah memiliki kekuatan sendiri. Masyarakat meyakini bahwa bambu tersebut dirasuki oleh roh leluhur atau makhluk halus selama ritual berlangsung.
Makna dan Nilai Filosofis
Bambu Gila memiliki nilai simbolis yang dalam bagi masyarakat Maluku, antara lain:
Keyakinan spiritual: Menunjukkan kepercayaan kuat masyarakat terhadap kekuatan gaib yang ada di sekitar mereka.
Semangat kebersamaan: Gerakan bambu yang hanya bisa dihadapi bersama-sama mengajarkan pentingnya kerja sama dan gotong royong.
BACA JUGA:Sejarah Bandara Soekarno-Hatta: Dari Lahan Cengkareng Menuju Gerbang Udara Internasional Indonesia!
Penghormatan kepada leluhur: Ritual ini merupakan bentuk hubungan dan penghormatan kepada nenek moyang mereka secara spiritual.
Peran dan Pelestarian Tradisi
Saat ini, Bambu Gila lebih sering ditampilkan sebagai atraksi budaya dalam festival atau acara resmi daerah, termasuk penyambutan tamu penting.
Pemerintah daerah aktif mempromosikan tradisi ini sebagai bagian dari pelestarian dan pengembangan pariwisata budaya.
Walaupun tingkat kesakralan ritual sudah tidak sekuat dulu, unsur spiritual tetap dijaga. Pawang atau orang yang berpengalaman masih terlibat, dan peserta wajib mengikuti aturan tertentu agar terhindar dari gangguan seperti pusing, mual, atau bahkan kesurupan—fenomena yang kadang dialami oleh mereka yang kurang persiapan mental dan spiritual.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Salah satu tantangan terbesar pelestarian tradisi ini adalah menurunnya minat generasi muda terhadap budaya lokal, yang terpengaruh budaya modern dan globalisasi.
Namun, pelestarian tetap dilakukan oleh tokoh adat, seniman, dan pemerintah daerah melalui pendidikan budaya, pelatihan seni tradisional, serta pelibatan tradisi ini dalam event besar seperti Festival Teluk Ambon dan Festival Pesona Maluku.