Meski bentuknya bisa beradaptasi, nilai dasarnya tidak berubah: syukur, harapan, dan penerimaan sosial.
Di sinilah kekuatan budaya lokal mampu menyatu dengan ajaran agama, namun tetap kokoh dalam jati dirinya.
Upacara ini bukan sekadar seremonial, tapi tonggak pertama perjalanan hidup seorang anak Minangkabau.