Bahkan dalam budaya patriarki Maasai, kekayaan seorang pria diukur dari jumlah ternak, istri, dan anak-anak yang dimilikinya.
Suku Maasai menganut kepercayaan monoteistik, menyembah dewa bernama Engai yang memiliki dua aspek Engai Narok (berhati lembut) dan Engai Na-Nyokie (pendendam).
Namun, kini banyak dari mereka juga memeluk agama Kristen dan Islam, meski tetap menjaga unsur kepercayaan tradisional.
Selama masa kolonial, Inggris dan Jerman merampas banyak wilayah Maasai untuk keperluan pertanian dan pembangunan rel kereta api.
BACA JUGA:Menilik Sejarah Gedung The Historich Cimahi, Tempat Hiburan Tentara Belanda
Perjanjian Maasai tahun 1904 dan 1911 memaksa mereka pindah dari tanah adat.
Pada 1940-an, wilayah mereka makin menyempit karena banyak lahan dijadikan taman nasional seperti Serengeti, Maasai Mara, dan Ngorongoro.
Hingga kini, suku Maasai terus bertahan dengan gaya hidup tradisional meski hanya menempati kurang dari 30% wilayah yang pernah mereka kuasai.
Mereka juga menghadapi tantangan modern seperti perubahan iklim, kekeringan, konflik agraria, serta marginalisasi politik dan ekonomi.
BACA JUGA:Jejak Historis Silsilah Kerajaan Majapahit dan Raja Paling Lama Berkuasa
Banyak wilayah adat mereka yang telah diubah menjadi taman nasional atau diberikan kepada investor, menyulitkan penggembalaan.
Gaya hidup nomaden mereka juga menjadi bentuk pelestarian lingkungan.
Mereka hanya mengambil hasil alam sesuai kebutuhan, tidak menebang pohon besar, dan tidak mengonsumsi daging satwa liar.
Bagi mereka, hewan liar adalah “ternak kedua” yang harus dilindungi.
BACA JUGA:Yuk Nonton Rookie Historian Goo Hae Ryung, Drama Hits Shin Se Kyung dan Cha Eun Woo!
Namun, tekanan zaman membuat budaya Maasai perlahan memudar.