Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Tanah Pasai: Sejarah Museum Malikussaleh!

Senin 09-06-2025,19:45 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Salah satu koleksi utama yang menjadi daya tarik adalah batu nisan Sultan Malikussaleh yang berangka tahun 1297 M.

Batu nisan ini bertuliskan kaligrafi Arab dengan gaya khas Gujarat yang menandakan hubungan erat antara Pasai dan pedagang Muslim India pada masa itu.

Selain itu, museum ini juga menyimpan berbagai koin emas dan perak dari masa Kesultanan, yang menunjukkan bahwa Pasai pernah menjadi pusat perdagangan yang makmur.

BACA JUGA:Sejarah Gunung Kembar: Antara Legenda, Keindahan, dan Jejak Alam!

Koleksi lainnya meliputi alat tenun tradisional, keramik kuno dari Tiongkok dan Timur Tengah, senjata tradisional seperti rencong dan pedang, serta naskah-naskah kuno beraksara Arab dan Jawi.

Beberapa artefak juga berasal dari situs-situs pemakaman raja dan bangsawan Pasai yang tersebar di sekitar Geudong, sebuah kawasan yang diyakini sebagai pusat pemerintahan kerajaan.

Peran Museum dalam Pelestarian Budaya

Museum Malikussaleh tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah. Ia juga berfungsi sebagai pusat studi sejarah dan budaya Aceh.

Para peneliti, sejarawan, dan pelajar dari berbagai daerah kerap berkunjung untuk mempelajari lebih lanjut tentang peradaban Islam awal di Nusantara.

Dalam upaya pelestarian, museum ini sering mengadakan kegiatan edukatif seperti pameran temporer, seminar sejarah, pelatihan konservasi benda budaya, hingga kunjungan edukasi bagi siswa sekolah.

BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Kembang: Jejak Mistis di Punggung Bukit Menoreh!

Ini membuktikan bahwa museum tidak hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi masa depan.

Tantangan dan Harapan

Meskipun memiliki nilai historis yang tinggi, Museum Malikussaleh menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal perawatan koleksi dan pengembangan fasilitas.

Sejumlah koleksi masih belum teridentifikasi secara menyeluruh, sementara sebagian lainnya membutuhkan penanganan konservasi profesional agar tidak rusak dimakan waktu.

Keterbatasan anggaran dan tenaga ahli juga menjadi kendala tersendiri dalam pengelolaan museum.

Kategori :