Ketika pemerintah kolonial Belanda mulai mengeksplorasi sumber daya alam di wilayah Priangan, Gunung Kancana menjadi salah satu lokasi tambang yang dijajaki.
Eksplorasi ini dilakukan oleh perusahaan tambang swasta yang mendapat izin dari pemerintah Hindia Belanda.
Mereka membangun jalur distribusi dan tempat pemrosesan bijih emas di sekitar lereng gunung.
Setelah Indonesia merdeka, aktivitas pertambangan di Gunung Kancana sempat terhenti, namun pada dekade-dekade berikutnya, kawasan ini kembali menjadi lokasi tambang rakyat.
Sayangnya, aktivitas tambang rakyat ini seringkali tidak terkontrol, menimbulkan kerusakan lingkungan, serta mengancam ekosistem setempat.
Beberapa laporan bahkan menyebutkan penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dalam proses pemisahan emas.
Hingga kini, tambang emas di Gunung Kancana masih menjadi sumber penghidupan bagi sebagian warga.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Kepulauan Seribu: Jejak Masa Lalu di Ujung Jakarta!
meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menertibkan dan mengawasi praktik pertambangan agar lebih ramah lingkungan.
Jejak Legenda dan Cerita Rakyat
Selain kekayaan alamnya, Gunung Kancana juga menyimpan berbagai cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu legenda yang cukup dikenal adalah kisah seorang pangeran yang menghilang secara misterius di kawasan gunung saat mencari batu kencana (emas) untuk dijadikan mas kawin.
Warga sekitar percaya bahwa roh sang pangeran masih menjaga gunung tersebut dan terkadang menampakkan diri kepada pendaki yang memiliki "hati bersih".
Ada juga cerita tentang makhluk halus penjaga harta karun yang disebut sebagai "penunggu emas".
Menurut kepercayaan lokal, orang yang tamak atau tidak sopan saat mengambil emas di kawasan gunung akan mengalami kesialan, bahkan bisa tersesat selama berhari-hari.
Cerita-cerita ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Kancana.