PAGARALAMPOS.COM - Pada tanggal 28 April 1908, Bali mencatat sebuah momen penting dalam sejarah perjuangannya, yakni peristiwa Puputan Klungkung—sebuah tindakan heroik sekaligus penuh duka yang menggambarkan keberanian luar biasa rakyat Bali dalam menghadapi penjajahan Belanda.
Kala itu, langit Klungkung tampak muram, seolah turut merasakan ketegangan.
Ratusan warga yang mengenakan pakaian serba putih berjalan mantap menuju medan laga, siap mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kehormatan dan tanah leluhur.
Di antara mereka, Raja Dewa Agung Jambe II turut memimpin langsung perjuangan, menolak untuk tunduk pada tekanan kolonial.
BACA JUGA:Menyikapi Sejarah Tugu Thomas Parr: Jejak Kolonial di Tanah Bengkulu!
BACA JUGA:Memahami Sejarah Suku Mentawai: Warisan Leluhur dari Pulau Terpencil!
Konflik ini merupakan puncak dari ketegangan panjang antara kerajaan-kerajaan di Bali dan Belanda. Ketika patroli Belanda memasuki wilayah Klungkung tanpa izin, amarah rakyat memuncak.
Sejak 13 April, perlawanan mulai terjadi, terutama dari rakyat Gelgel yang menyebabkan jatuhnya sepuluh prajurit Belanda, termasuk Letnan Haremaker. Kejadian itu memicu kemarahan pemerintah kolonial.
Sebagai respons, Belanda mengirim ultimatum kepada Raja Dewa Agung Jambe II, menuntut penyerahan diri paling lambat 22 April.
Namun sang Raja menolak tunduk. Ia dan rakyatnya memilih jalan kehormatan, meski sadar bahwa kekuatan mereka jauh tertinggal dibanding pasukan kolonial yang dilengkapi senjata canggih dan meriam.
BACA JUGA:Sejarah Tugu Raja Sibarani: Jejak Leluhur dan Simbol Pemersatu Marga di Tanah Batak!
BACA JUGA:Mengenal Sejarah Tugu Batu Sawangan Depok: Warisan Leluhur yang Tersembunyi di Tengah Modernisasi!
Menjelang batas waktu ultimatum, bala bantuan militer Belanda sudah mulai berdatangan dari Batavia. Pada 21 April, serangan besar-besaran pun dilancarkan.
Istana Semarapura menjadi sasaran utama, disusul dengan pemboman selama hampir satu pekan yang memperlemah pertahanan kerajaan.
Puncaknya terjadi pada 27 April, ketika pasukan Belanda semakin memperkuat cengkeramannya di kawasan Klungkung dengan masuk melalui pelabuhan Kusamba dan Jumpai. Satu per satu anggota bangsawan gugur, termasuk putra mahkota.