Salah satu zirah paling ikonik dari legiun Romawi adalah Lorica Segmentata, yang terdiri dari pelat-pelat logam melengkung yang dirakit secara fleksibel.
Meski kerap muncul dalam berbagai representasi budaya populer, bukti arkeologis atas penggunaannya masih terbatas, dan kebanyakan informasi diperoleh dari patung dan lukisan zaman itu.
Sebelum munculnya Segmentata, Romawi telah menggunakan Lorica Squamata, yaitu zirah yang terbuat dari sisik-sisik logam kecil yang disusun di atas kain.
Desainnya menyerupai sisik ikan, memberikan perlindungan yang baik sekaligus ruang gerak yang cukup.
BACA JUGA:Menyikapi Sejarah Tugu Thomas Parr: Jejak Kolonial di Tanah Bengkulu!
BACA JUGA:Memahami Sejarah Suku Mentawai: Warisan Leluhur dari Pulau Terpencil!
Sisik ini umumnya dibuat dari besi atau kuningan, bahkan ada yang dilapisi logam putih untuk mengurangi risiko korosi.
Jenis lain adalah Lorica Hamata, yakni zirah rantai yang terdiri dari puluhan ribu cincin logam yang saling terkait.
Model ini digunakan sejak era Republik hingga masa Kekaisaran. Meskipun proses pembuatannya sangat rumit—satu zirah terdiri dari sekitar 30.000 cincin—namun hasilnya sangat tahan lama.
Karena ketangguhannya dan biaya yang lebih efisien dibanding zirah pelat, jenis ini bahkan terus digunakan hingga abad pertengahan.
BACA JUGA:Sejarah Tugu Keris Siginjai Jambi: Simbol Kebanggaan dan Warisan Budaya Melayu!
BACA JUGA:Sejarah Perjalanan Tugu Juang Siliwangi: Simbol Keteguhan dan Semangat Perjuangan Rakyat Sunda!
Pemilihan jenis zirah dalam tentara Romawi sangat bergantung pada banyak faktor, termasuk pangkat militer, status sosial, hingga kondisi logistik dan ekonomi pada masa itu.
Oleh sebab itu, perlengkapan tempur Romawi bukan hanya alat pelindung di medan perang, tetapi juga mencerminkan tatanan sosial dan perkembangan zaman mereka.