PAGARALAMPOS.COM - Honai merupakan rumah adat yang khas dari Papua, khususnya milik Suku Dani yang mendiami Lembah Baliem di wilayah Papua Pegunungan.
Bangunan ini memiliki ciri unik berbentuk bundar dengan atap runcing yang terbuat dari jerami, dirancang khusus agar mampu menghadapi iklim pegunungan yang lembap dan dingin, terutama saat malam hari ketika suhu bisa turun hingga 10–15 derajat Celsius.
Asal-usul Honai tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat untuk memiliki tempat tinggal yang mampu melindungi mereka dari cuaca ekstrem.
Bahan pembuatnya pun berasal dari alam sekitar, seperti kayu sebagai rangka utama, dinding bambu anyam, serta atap jerami yang juga berfungsi sebagai penahan suhu dingin.
BACA JUGA:Sejarah Tempat Pertahanan Tanah Tinggi: Jejak Pertahanan Zaman Dulu di Dalam Kota!
Lebih dari sekadar tempat tinggal, Honai mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Suku Dani. Ukurannya yang mungil dan minim ventilasi bertujuan mempertahankan kehangatan dalam ruangan.
Setiap unsur bangunan pun sarat akan makna: kayu melambangkan kekuatan, bentuk atap runcing menandakan perlindungan, dan lantai berlapis jerami menggambarkan kesederhanaan hidup.
Terdapat beberapa jenis Honai dengan fungsi masing-masing, antara lain:
BACA JUGA:Sejarah Danau Ranau: Warisan Geologi dan Budaya di Perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung!
BACA JUGA:Sejarah Monumen Bambu Runcing: Simbol Perjuangan Rakyat Surabaya Melawan Penjajah!
Honai (Pilamo): Dikhususkan bagi pria dewasa sebagai tempat beristirahat, berdiskusi, dan menyimpan perlengkapan tradisional atau senjata.
Ebei: Digunakan oleh perempuan dan anak-anak, menjadi simbol kehangatan keluarga dan kehidupan bersama.
Wamai: Diperuntukkan bagi ternak, bentuknya disesuaikan dengan jumlah dan jenis hewan yang dipelihara.
Selain itu, terdapat juga Hunila, bangunan memanjang yang dijadikan dapur bersama serta tempat menyimpan bahan pangan.