Tapi yang menarik Perang Padri bukan hanya tentang agama Ia juga soal modernitas.
Kaum Padri membawa disiplin, organisasi militer modern, dan secara tak langsung gagasan tentang negara Islam yang tertib dan bersih.
Mereka bukan pemberontak semata Mereka adalah reformis.
Mimpi mereka masyarakat tanpa kemusyrikan, dengan hukum yang satu syariah.
BACA JUGA:Sejarah Benteng Balangnipa: Simbol Keberanian dan Ketahanan Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan!
Namun mimpi itu tumbang Setelah bertahun-tahun perang, dari 1803 hingga 1837, kekuatan Padri melemah.
Belanda yang semula hanya “membantu,” kemudian mencengkeram penuh.
Setelah Imam Bonjol ditangkap dengan tipu muslihat dan dibuang ke Manado, Minangkabau resmi jatuh ke tangan kolonial.
Lalu muncul ironi terbesar dalam sejarah ini.
BACA JUGA:Sejarah Benteng Kedung Cowek: Warisan Pertahanan dan Perjuangan di Surabaya!
Setelah semua darah yang tumpah, setelah semua kompromi dan pengkhianatan, adat dan syariah akhirnya duduk berdampingan.
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah” itulah hasil akhir dari perang berdarah itu.
Sebuah perjanjian damai ideologis yang sampai kini masih terdengar di Sumatera Barat.
Tapi sejarah selalu punya bekas luka.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Rumah Bangsal Kencono: Simbol Kejayaan Keraton Yogyakarta!
Apakah Imam Bonjol kalah? Secara militer ya. Secara moral? Tidak juga Ia kalah dari meriam, tapi menang di kepala generasi berikutnya.