Perang Bosnia Saat Tetangga Jadi Musuh dan Dunia Hanya Menonton

Kamis 15-05-2025,09:16 WIB
Reporter : Yogi
Editor : Gelang

NATO, yang awalnya ragu untuk campur tangan, akhirnya melancarkan serangan udara pada tahun 1995 setelah tekanan internasional tak terbendung.

Tapi semua sudah terlambat untuk mereka yang telah menjadi korban.

Perang Bosnia tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tapi juga trauma kolektif yang belum sembuh hingga kini.

Luka sosial antar-etnis masih membekas.

BACA JUGA:Sejarah Gunung Karang: Jejak Alam dan Spiritualitas di Ujung Banten!

Bosnia pasca-perang hidup dalam sistem pemerintahan rumit hasil Perjanjian Dayton, yang mencoba menyeimbangkan kekuasaan tiga kelompok etnis—tapi justru membuat negara itu seperti kapal yang lambat di tengah badai.

Kini, hampir tiga dekade setelah perang, Bosnia masih berjuang menemukan jati diri dan arah masa depan.

Generasi muda lahir dalam bayang-bayang trauma, namun juga membawa harapan akan rekonsiliasi.

Tapi di balik upaya itu, bayang-bayang nasionalisme masih mengintai, seolah sejarah enggan benar-benar tidur.

BACA JUGA:Menyikapi Sejarah Rumah Sasadu: Simbol Persatuan Orang Sahu di Halmahera Barat!

Perang Bosnia adalah pengingat getir bahwa damai bukanlah hadiah yang datang bersama runtuhnya perang besar, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan terus-menerus.

Ia adalah luka yang belum sembuh, tapi juga pelajaran bahwa di balik kehancuran, selalu ada peluang untuk membangun ulang.

Bosnia, dalam sunyinya, berbicara pada dunia bahwa perdamaian bukanlah akhir dari perang, tapi permulaan dari perjuangan manusia menjaga nurani.

Luka Eropa itu masih ada—mengingatkan kita semua agar tidak pernah lagi membiarkan sejarah mengulang dirinya dalam bentuk paling kelam.

Kategori :