Ia membaca banyak literatur politik, mulai dari nasionalisme Jerman hingga antisemitisme.
Dari kegagalan seninya, lahir sosok yang akan menjadi tokoh ekstremis di kemudian hari.
Dia bergabung dengan pasukan Jerman selama Perang Dunia I.
Ia tidak pernah naik pangkat tinggi, tetapi pengalaman di medan perang memperkuat rasa nasionalismenya dan kebenciannya terhadap kekalahan Jerman.
BACA JUGA:Sejarah Bukit Nirwana: Dari Tempat Sunyi Menuju Destinasi Favorit Wisata Alam!
Kekalahan itu dianggapnya sebagai pengkhianatan dari dalam, narasi yang kelak menjadi salah satu fondasi retorikanya.
Setelah perang, Jerman memasuki masa krisis.
Ketidakstabilan ekonomi dan politik memungkinkan ideologi radikal berkembang. Sebelum bergabung dengan Partai Nazi, dia bergabung dengan Partai Pekerja Jerman.
Retorika penuh emosi, propaganda cerdas, dan janji pemulihan kebanggaan nasional membuatnya semakin populer.
BACA JUGA:Sejarah Masjid Raya Sheikh Zayed Solo: Simbol Persahabatan Indonesia-Uni Emirat Arab!
ia diangkat menjadi Kanselir Jerman Di tahun 1933
Tak lama kemudian, ia mengonsolidasikan kekuasaan sebagai diktator.
Sebagai pemimpin, Hitler membawa Jerman keluar dari keterpurukan ekonomi melalui proyek-proyek raksasa dan pengembangan militer.
Namun, di balik itu, ia menyulut bara perang dan kebencian.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Keraton Kaibon: Saksi Bisu Kejayaan Banten!
melakukan genosida terhadap Yahudi dan kaum minoritas lainnya karena obsesinya terhadap ras Arya dan keyakinannya bahwa Jerman adalah yang terbaik.