Amerika Serikat mulai merengut.
PBB bersuara lebih keras, Dan dalam waktu yang tidak lama, Belanda terpaksa mengembalikan Soekarno-Hatta ke Yogyakarta Republik kembali berdenyut.
BACA JUGA:Sejarah Candi Kalibukbuk: Menelusuri Jejak Hindu Kuno di Bali Utara yang Terlupakan!
Tapi siapa yang harus kita beri kredit? Soeharto? Ya, ia pelaksana teknis. Sultan? Tanpa ragu, tokoh sentral.
Tapi jangan lupakan peran besar Sri Sultan dalam menyeimbangkan kekuatan militer dan kelicinan diplomasi.
Ia membuka Keraton, mengatur logistik, dan menenangkan rakyat.
Tanpa dukungannya, serangan itu mungkin hanya jadi aksi nekat belaka.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Poteng: Jejak Mistis dan Peran Strategis di Kalimantan Barat!
Dan tentu saja, rakyat Yogyakarta.
Mereka yang menyembunyikan tentara, memberi makan, mengirim pesan diam-diam.
Rakyat selalu jadi tulang punggung revolusi.
Dan dalam sejarah Indonesia, Yogyakarta selalu jadi jantung yang berdetak paling keras.
BACA JUGA:Menyikapi Bukit Kelam: Keajaiban Alam, Sejarah, dan Legenda yang Menyertai!
Kini, setiap 1 Maret, kita mengenang Serangan Umum itu.
Tapi lebih dari sekadar mengenang, kita mesti bertanya. bagaimana kita mempertahankan semangat itu hari ini Di tengah perang informasi, di antara kabut kepentingan politik, masihkah kita punya keberanian seperti mereka berani melawan arus, berani berpikir taktis, dan berani bertindak demi nama Republik
Sejarah memang tidak berulang, tapi semangatnya bisa diturunkan. Serangan Umum 1 Maret adalah pelajaran bahwa taktik militer tanpa narasi politik adalah sia-sia. Dan bahwa kemenangan terbesar tidak selalu soal merebut kota, tapi merebut kembali kepercayaan dunia.