BACA JUGA:Awalnya Dagang, Akhirnya Kuasai! Begini Cara VOC Menipu Raja-Raja Lokal
Sejarah Pendirian dan Gaya Arsitektur
Candi Selogriyo diperkirakan dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, pada masa awal perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah.
Para arkeolog meyakini candi ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno, yang juga membangun candi-candi besar seperti Prambanan dan Dieng.
Arsitektur Candi Selogriyo mengadopsi gaya Hindu klasik dengan bentuk persegi dan atap bertingkat yang melambangkan Gunung Meru, gunung suci dalam kosmologi Hindu.
Di dalam bilik utama (garbagriha) terdapat lingga dan yoni, simbol kesuburan dan kekuatan penciptaan dalam ajaran Hindu.
BACA JUGA:Keajaiban Masjid Raya Baiturrahman. Tetap Megah dan Berdiri Kokoh Diterjang Keganasan Tsunami Aceh
Relief-relief yang menghiasi dinding candi cukup sederhana, namun memiliki nilai simbolik yang kuat, seperti motif bunga teratai dan makhluk mitologi.
Penemuan Kembali dan Pelestarian
Candi Selogriyo sempat tertimbun tanah dan terlupakan selama berabad-abad. Baru pada tahun 1835, candi ini ditemukan kembali oleh Residen Kedu yang saat itu tengah menjelajahi wilayah pegunungan.
Sejak saat itu, pemerintah kolonial Belanda mulai mendata dan mempelajari situs ini.
Namun, pelestarian candi tidak berjalan mulus. Pada tahun 1998, longsor besar melanda kawasan Selogriyo dan merobohkan sebagian besar struktur candi.
BACA JUGA:Bukan Kerajaan Biasa Sriwijaya Punya Jalur Dagang Super Strategis Sejak Abad ke-7
Berkat upaya restorasi yang intensif oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), candi berhasil dipindahkan sekitar 8 meter dari lokasi semula dan dibangun kembali menggunakan batu asli yang masih tersisa.
Restorasi ini tidak hanya mengembalikan bentuk fisik candi, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk mengembangkan potensi wisata budaya dan sejarah di kawasan tersebut.
Nilai Budaya dan Spiritualitas