Pada tahun 1995, pemerintah Indonesia menetapkan Gunung Kerihun dan sekitarnya sebagai Taman Nasional Betung Kerihun melalui Keputusan Menteri Kehutanan.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Museum Tanah, Bogor: Menelusuri Jejak Tanah Indonesia!
Dengan luas lebih dari 800.000 hektar, taman nasional ini bertujuan untuk melindungi salah satu ekosistem hutan hujan tropis yang tersisa di Borneo.
Taman Nasional Betung Kerihun tidak hanya kaya flora dan fauna, tetapi juga berfungsi sebagai kawasan penyangga air untuk Sungai Kapuas sungai terpanjang di Indonesia.
Ini memperlihatkan betapa pentingnya Gunung Kerihun dalam menjaga keseimbangan ekosistem regional.
Kehidupan Flora dan Fauna
Gunung Kerihun adalah rumah bagi ribuan spesies tanaman dan hewan, banyak di antaranya tergolong endemik atau langka. Spesies-spesies seperti orangutan Kalimantan, beruang madu, macan dahan, hingga burung enggang hidup di kawasan ini.
BACA JUGA:Sejarah Museum Puspa IPTEK Sundial: Mengungkap Keajaiban Ilmu Pengetahuan dan Teknologi!
Tumbuhan seperti kantong semar dan berbagai jenis anggrek juga tumbuh subur di bawah kanopi hutan.
Bagi ilmuwan, Gunung Kerihun adalah laboratorium alami untuk mempelajari evolusi dan keanekaragaman hayati.
Sedangkan bagi masyarakat adat, flora dan fauna di kawasan ini merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari, baik sebagai sumber pangan, obat-obatan, maupun bagian dari tradisi budaya mereka.
Budaya dan Masyarakat Adat
Masyarakat adat Dayak Iban, Tamambaloh, dan Taman telah mendiami kawasan sekitar Gunung Kerihun selama berabad-abad.
BACA JUGA:Sejarah Museum Puspa IPTEK Sundial: Mengungkap Keajaiban Ilmu Pengetahuan dan Teknologi!
Mereka hidup dalam hubungan yang sangat erat dengan alam, menerapkan sistem pengelolaan sumber daya alam berbasis kearifan lokal. Tradisi berladang, berburu, dan memancing dilakukan dengan prinsip keberlanjutan.
Salah satu tradisi yang terkenal adalah budaya rumah panjang, di mana beberapa keluarga tinggal bersama dalam satu bangunan besar.