Ekspedisi Pantai Sembilan, Cerita yang Tak Tercatat Sejarah

Senin 21-04-2025,19:59 WIB
Reporter : Meydia
Editor : Almi

PAGARALAMPOS.COM - Ekspedisi Pantai Sembilan, Cerita yang Tak Tercatat Sejarah

Terletak di Pulau Giligenting Kabupaten Sumenep Madura Pantai Sembilan mungkin belum sepopuler pantai-pantai lain di Indonesia.

Namun di balik pasir putihnya yang bersih dan air laut yang jernih pantai ini menyimpan cerita panjang yang tak hanya tentang keindahan tapi juga sejarah yang terlupakan dan misteri yang belum terungkap hingga kini.

Asal Usul Nama "Pantai Sembilan"

Nama "Pantai Sembilan" bukan sekadar penamaan biasa. Penduduk lokal menyebutkan bahwa nama ini diambil dari bentuk pantainya yang menyerupai angka sembilan (9) jika dilihat dari udara. Namun ada pula versi lain yang lebih sarat makna mistis.

Konon, angka sembilan memiliki kaitan erat dengan angka keramat dalam kepercayaan masyarakat lokal. Angka ini dianggap sakral dan melambangkan kesempurnaan spiritual dan dipercaya menjadi simbol dari sembilan penjuru arah mata angin yang dijaga oleh kekuatan gaib.

BACA JUGA:Menggali Kembali Sejarah Kebaya Kartini: Simbol Emansipasi dan Identitas Perempuan Indonesia!

BACA JUGA:Sejarah Hari Kartini: Mengenang Perjuangan Sang Pelopor Emansipasi Wanita Indonesia!

Beberapa sesepuh desa bahkan meyakini bahwa pantai ini dulu merupakan tempat pertemuan para wali dan tokoh-tokoh spiritual Madura yang memilih tempat ini karena energinya yang kuat dan keberadaannya yang terpencil dari keramaian.

Sayangnya karena keterbatasan dokumentasi hal ini belum pernah dibuktikan secara tertulis dan hanya diwariskan lewat cerita lisan dari generasi ke generasi.

Pantai yang Terlupakan Sejarahnya

Madura dikenal sebagai pulau yang kaya akan tradisi, pelaut ulung, dan jalur perdagangan zaman dahulu. Namun sedikit yang tahu bahwa Pulau Giligenting, tempat Pantai Sembilan berada pernah menjadi titik singgah penting para pelaut dari Jawa dan luar negeri. Beberapa bukti arkeologis berupa pecahan tembikar dan keramik tua pernah ditemukan oleh warga setempat saat sedang menggali lahan.

BACA JUGA:Menginggat Kembali Hari Kartini: Sejarah Warisan Ibu Kartini, Jejak Emansipasi yang Menginspirasi Bangsa!

BACA JUGA:Sejarah Museum Ullen Sentalu: Melestarikan Keindahan dan Budaya Jawa di Yogyakarta!

Beberapa arkeolog lokal yang sempat meneliti pecahan-pecahan tersebut menyebutkan bahwa benda itu berasal dari masa kolonial Belanda dan perdagangan Tiongkok abad ke-18. Namun belum ada penelitian resmi yang mendalam karena akses ke pulau ini cukup terbatas dan masih belum menjadi fokus utama pengembangan wisata budaya oleh pemerintah daerah.

Kategori :