Mitos ini berkembang dari cerita para pendaki atau warga yang mengaku pernah melihat aktivitas aneh di sekitar danau seperti suara gamelan, asap kemenyan atau penampakan istana di kejauhan.
Gunung Barujari, yang tumbuh di tengah Danau Segara Anak akibat aktivitas vulkanik juga menambah aura misteri Rinjani. Banyak pendaki percaya bahwa gunung kecil ini adalah “penjaga” dari kekuatan gaib yang ada di Rinjani.
BACA JUGA:Warisan Tanpa Nama, Situs Megalit yang Ditinggalkan Sejarah
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah dan Misteri Danau Habema: Jejak Roh Leluhur di Atap Papua!
Beberapa cerita menyebutkan bahwa suara dentuman dari Barujari bukan semata-mata aktivitas geologi, melainkan “peringatan” dari dunia tak kasat mata agar manusia menjaga kelestarian dan kesucian tempat tersebut.
Pendaki Hilang dan Pantangan Tak Tertulis
Gunung Rinjani juga dikenal dengan kisah-kisah pendaki yang hilang secara misterius. Beberapa kasus bahkan tak pernah terpecahkan meski telah dilakukan pencarian besar-besaran. Dalam kepercayaan lokal, hal ini sering dikaitkan dengan pelanggaran pantangan adat.
Beberapa larangan tak tertulis yang harus diperhatikan pendaki antara lain:
Tidak berkata kasar atau sombong selama pendakian.
Tidak membuang air sembarangan di Danau Segara Anak.
BACA JUGA:Sisi Gelap Sejarah Indonesia, Pengakuan Pemerintah atas Tragedi 1965
Tidak mengambil batu, tanah, atau tanaman sebagai "oleh-oleh".
Mereka yang melanggar diyakini akan “diganggu” atau bahkan ditarik ke dunia lain. Cerita-cerita semacam ini banyak beredar dari para porter dan penduduk sekitar yang sering menjadi pemandu.
Nama “Rinjani” sendiri juga menyimpan teka-teki. Ada yang menyebut bahwa nama ini berasal dari nama seorang putri bangsawan Kerajaan Selaparang (kerajaan kuno di Lombok) yang memilih bertapa dan hidup dalam kesunyian di puncak gunung setelah menolak perjodohan.