Menyikapi Puncak Mahameru: Menapaki Jejak Sejarah di Atap Jawa!

Rabu 16-04-2025,01:30 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Sebagai gunung berapi aktif, Semeru—tempat Mahameru berada—tidak pernah tidur.

Gunung ini dikenal dengan erupsi kecil berkala setiap 15 hingga 30 menit, menjadikannya salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Letusan-letusan kecil itu menjadi ciri khas Semeru dan dapat dilihat langsung dari Pos Kalimati atau Puncak Mahameru.

Beberapa letusan besar yang terjadi dalam sejarah, seperti pada tahun 1941, 2002, dan 2021, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan di wilayah sekitarnya.

BACA JUGA:Taman Sriwedari: Jejak Sejarah, Pusat Kebudayaan, dan Warisan Seni Pertunjukan Abad ke-20 di Kota Solo!

Oleh sebab itu, pendakian ke Mahameru tidak hanya memerlukan kekuatan fisik, tetapi juga kesadaran akan risiko dan pentingnya keselamatan.

Mahameru Hari Ini

Kini, Mahameru menjadi salah satu destinasi pendakian paling populer di Indonesia.

Setiap tahunnya, ribuan pendaki dari dalam dan luar negeri mencoba menapaki jalur yang panjang dan melelahkan untuk mencapai puncaknya.

Namun, untuk menjaga kelestarian alam, pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menerapkan sistem kuota dan pembatasan jumlah pendaki.

BACA JUGA:Jejak Sejarah dan Kearifan Lokal: Menelusuri Kawah Sinila dan Kawah Timbang sebagai Warisan Alam dan Budaya!

Selain keindahan alamnya yang luar biasa, pendakian ke Mahameru sering kali menjadi perjalanan batin yang mendalam.

Banyak pendaki yang merasa tersentuh secara spiritual setelah berhasil mencapai puncaknya, menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan Tuhan yang agung.

Kategori :