Sejarah Pasar Setan di Gunung Lawu: Antara Mitos dan Kenyataan Mistis!

Selasa 08-04-2025,22:30 WIB
Reporter : Lia
Editor : Almi

Anehnya, saat mencoba mencari sumber suara, tidak ada satu pun orang di sekitar mereka.

Ada pula cerita dari pendaki yang tiba-tiba merasa seperti berada di tempat berbeda, tersesat, atau bahkan mengelilingi jalur yang sama berulang kali, hingga akhirnya sadar mereka sedang “dipermainkan”.

Konon, satu-satunya cara untuk keluar dari gangguan ini adalah dengan melempar koin atau makanan kecil ke tanah, sebagai bentuk “bayaran” kepada penghuni pasar tersebut. Setelah itu, barulah suasana kembali normal.

Antara Mitos dan Logika

BACA JUGA:Menyikapi Kisah Sejarah Gedung Filateli Jakarta: Warisan Kolonial di Jantung Kota!

Sebagian orang menganggap Pasar Setan hanyalah mitos atau ilusi akibat kelelahan fisik dan mental selama pendakian.

Gunung Lawu, seperti halnya gunung-gunung tinggi lainnya, memiliki kondisi lingkungan yang bisa menyebabkan halusinasi: oksigen tipis, suhu ekstrem, hingga rasa lelah yang menumpuk.

Kondisi ini bisa memicu sensasi pendengaran atau penglihatan yang tidak nyata.

Hal ini memperkuat keyakinan bahwa ada dimensi lain yang memang “hidup” di gunung ini.

BACA JUGA:Sejarah Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta: Monumen Kehormatan Para Pejuang Bangsa!

Nilai Budaya dan Spiritualitas

Terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan Pasar Setan, cerita ini telah menjadi bagian dari kekayaan budaya spiritual Jawa.

Pendaki yang memahami nilai-nilai ini biasanya akan lebih berhati-hati, menjaga sikap, dan tidak sembarangan selama berada di Gunung Lawu.

Karena, dalam pandangan spiritual Jawa, perilaku buruk di tempat sakral bisa membawa konsekuensi, baik secara fisik maupun spiritual.

Kategori :