Perjuangan untuk melestarikan angklung tidak berhenti di tingkat nasional.
Pengakuan ini menegaskan bahwa angklung memiliki nilai budaya yang tinggi dan perlu dilestarikan untuk generasi mendatang.
Sejak pengakuan UNESCO, angklung semakin populer di berbagai belahan dunia.
Bahkan, beberapa konser dan festival angklung telah digelar di berbagai negara untuk memperkenalkan keindahan alat musik ini.
Struktur dan Cara Memainkan Angklung
Angklung terdiri dari tabung-tabung bambu yang disusun sedemikian rupa dan diikat dengan tali rotan. Setiap tabung bambu memiliki ukuran yang berbeda, yang menghasilkan nada tertentu ketika digoyangkan.
Untuk memainkannya, seseorang harus menggoyangkan angklung secara perlahan agar tabung bambu bergetar dan menghasilkan suara.
Dalam satu ansambel angklung, biasanya setiap pemain memegang satu atau beberapa angklung dengan nada tertentu, sehingga diperlukan kerja sama yang baik untuk menghasilkan melodi yang harmonis.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Api Mahengetang: Keajaiban Vulkanik di Bawah Laut!
Angklung dalam Kehidupan Modern
Banyak sekolah di Indonesia dan luar negeri menggunakan angklung sebagai alat pembelajaran musik yang menyenangkan dan mendidik.
Upaya Pelestarian dan Tantangan ke Depan
Meskipun angklung telah mendapatkan pengakuan dunia, tantangan dalam pelestariannya masih ada.
BACA JUGA:Menelusuri Sejarah Gunung Api Mahengetang: Keajaiban Vulkanik di Bawah Laut!
Beberapa di antaranya adalah kurangnya regenerasi pemain angklung, perubahan gaya hidup modern yang cenderung meninggalkan budaya tradisional, serta berkurangnya ketersediaan bambu berkualitas untuk pembuatan angklung.