Ata Bupu tidak keberatan memberi mereka tempat tinggal. tetapi, mereka diminta untuk tidak meninggalkan ladang supaya tidak dimangsa Ata Polo.
Tidak disangka, Ata Polo datang berkunjung ke pondok Ata Bupu serta mencium bau mangsa.
Saat Ata Polo hendak mencari sumber bau, Ata Bupu membujuknya dengan mengatakan bahwa mangsa tadi masih anak-anak sehingga kurang sedap disantap.
Ata Bupu menyarankan agar Ata Polo datang kembali ketika anak-anak itu telah dewasa. ketika berkecimpung dewasa, Ko’ofai (anak perempuan ).
Serta Nuwa Muri memutuskan buat mencari tempat persembunyian di gua-gua, di luar ladang Ata Bupu. waktu Ata Polo kembali ke pondok Ata Bupu untuk menagih janji, anak-anak itu telah menghilang.
Ata Polo murka lalu menyerang Ata Bupu dengan ilmu magi hitam, sedangkan Ata Bupu bertahan dengan ilmu magi putih.
Pertempuran itu menyebabkan banyak gempa bumi dan kebakaran di Gunung Kelimutu.
Ata Bupu, yang sudah tua sebagai akibatnya tidak bertenaga lagi menunda agresi Ata Polo, menetapkan buat menghilang ke pada bumi.
Akhirnya Ata Polo juga raib ke dalam bumi akibat serangan-serangannya sendiri yang kelewat batas. Sayangnya, kedua anak itu ikut terkubur hayati-hayati di dalam gua yang runtuh dampak gempa.
Tidak lama lalu, tempat Ata Bupu raib muncul danau berwarna biru (Tiwu Ata Bupu/Mbupu). daerah Ata Polo mangkat menjadi danau berwarna merah yang terus bergejolak (Tiwu Ata Polo).
Sedangkan daerah sepasang anak itu mati berubah menjadi danau berwarna hijau yg hening (Tiwu Nuwa Muri Ko’ofai).