BACA JUGA:Mungkinkah Suku Mandar Akan Terlupakan? Temukan Sejarah Menariknya!
Konflik dengan Belanda (1600-an – 1800-an)
Setelah kejatuhan Malaka pada 1641 dan pengambilalihan jalur perdagangan oleh Belanda, konflik dengan Aceh berlanjut.
Belanda, yang pada saat itu sedang membangun dominasi kolonialnya di Indonesia, melihat Aceh sebagai ancaman besar bagi kepentingan ekonomi mereka.
Pada abad ke-17, Belanda mulai melakukan ekspansi ke Aceh, dengan tujuan menguasai perdagangan rempah-rempah dan mengeksploitasi sumber daya alam di wilayah tersebut.
Namun, Aceh tidak mudah menyerah.
BACA JUGA:Mengapa Situs Bersejarah Suku Tolaki Begitu Menarik? Temukan Keunikannya!
Di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Aceh menjadi salah satu kerajaan yang paling kuat di Asia Tenggara.
Iskandar Muda memimpin serangkaian peperangan untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan Belanda.
Bahkan, pada masa pemerintahannya, Aceh berhasil melakukan ekspansi ke beberapa wilayah di pesisir barat Sumatra dan sekitarnya.
Meski demikian, setelah kematian Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636, Aceh mulai menghadapi tantangan internal dan eksternal.
BACA JUGA:Misteri Prasasti Yupa: Mengungkap Sejarah Kerajaan Kutai yang Terlupakan!
Konflik dengan Belanda terus berlanjut, namun tidak ada kemenangan definitif yang dapat dicapai oleh kedua belah pihak.
Belanda, yang terus berusaha menguasai Aceh, akhirnya memulai taktik pengepungan dan diplomasi untuk meruntuhkan kerajaan tersebut.
Penaklukan Belanda (1873-1912)
Pada abad ke-19, setelah sekian lama terlibat dalam konflik, Belanda akhirnya melancarkan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Aceh.