BACA JUGA:Tribhuwana Tunggadewi dan Gajah Mada, 2 Sosok Berpengaruh Kejayaan Majapahit
Sungguh ironis ketika Naritsugu, yang dikenal psikopat, malah menjadi perwujudan paling klasik dari anggota keluarga Shogun.
Sepanjang film, konflik antara damai dan menjaga semangat Keshogunan menjadi latar belakang utama.
Ya, tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah dalam pertikaian itu.
BACA JUGA:Dobrak Kebiasaan Nyeleneh Suku Polahi Gorontalo yang Biasa Lakukan Perkawinan Sedarah
Bagi Naritsugu, jelas semangat Keshogunan yang harus dipertahankan, terlepas apapun caranya.
Bagi Doi, damai yang utama karena cepat atau lambat keluarga Keshogunan pasti akan berubah dimakan zaman.
Naritsugu merasa kedamaian akan membuat kaum samurai menjadi malas dan kehilangan pamor.
BACA JUGA:Mengenal Sejarah Pintu Gerbang Kerajaan Majapahit Yang Tertinggal Di Pati Jawa Tengah!
Selain itu, Naritsugu juga sangat terobsesi dengan kematian agung di medan perang.
Semangat yang dipegang Naritsugu; ‘jika tidak ada perang, maka buatlah peperangan itu!’*