Suku Cina Di Palembang, Akibat Hubungan Masa Lampau?

Sabtu 17-06-2023,09:13 WIB
Reporter : Almi
Editor : Almi

Hal ini dapat lihat dari catatan sejarah Dinasti Ming buku 324: Ying Yai Shel Lan yang mencatat tentang suasana di Palembang dan dikutip oleh Hanafiah (1995: 102).

Yaitu: ....Kapal-kapal dari semua penjuru dalang kemari: pertama mereka akan mencapai muara air tawar dan kemudian memasuki P'engchia Selat Bangka).

Mereka menambatkan kapa-kapal mereka ke pantai, di mana sangat banyak tiang-tiang bata di pantai;

BACA JUGA:WOW! Ternyata Ini Sosok yang Menaklukan Kerajaan Padjajaran!

Kemudian mereka mempergunakan kapal-kapal kecil untuk memasukl muara, kemudian mereka mencapai lbukota.

Banyak dari penduduk dari neger1 ini adalah orang-orang dari propinsi Kwantung dan dari Chang Chou dan Chuan Chou yang melarikan diri dan sekarang tinggal di negeri itu. Dari kutipan di atas dapatlah ditafsirkan bahwa Jalur yang dilalui oleh orang-orang Tionghoa untuk datang ke Nusantara Dan Palembang pada khususnya, m elalui Jalur perdagangan (transfortasi laut) yang ada pada masa itu.

Sebelum mencapai Palembang mereka transit terlebih dahulu di pulau Bangka, yang merupakan pintu gerbang menuju ke ibukota Palembang. BACA JUGA:WOW! Ternyata Ini Sosok yang Menaklukan Kerajaan Padjajaran! Kemudian terjadi migrasi orang-orang Cina/Tionghoa Nusantara secara besar-besaran mulai dari abad ke-i6 sampai pertengahan abad ke-19.

Mereka yang berasal dari propinsi Fukien bagian selatan adalah suku bangsa Hokkien yang 50 % dari mereka adalah pedagang, selebihnya bekerja sebagai petani dan nelayan tergantung dimana mereka tinggal. 

Sedangkan yang berasal di propinsi Kwantung yaitu orang Hakka yang sebagian menjadi pengusaha industri kecil dan bekerja di pertambangan.

Orang-orang Teo-Chiu kebanyakan bekerja sebagai petani sayur-sayuran dan menjadi kuli-kuli perkebunan di daerah daerah perkebunan.  BACA JUGA:Gunakan Strategi Ini, Pajajaran Sulit Ditaklukkan? Cek Faktanya!      

Orang-orang Tionghoa (Teo Chiu) di Palembang dikenai dengan panggilan "Cina Kebon" hal ini sesuai dengan pekerjaan yang ditekuni oleh sebagian besar orang-orang Chiu dan latar belakang sejarah mereka yang pada mulanya didatangkan sebagai petani perkebunan di Sumatera Timur. Orang-arang Kwong Fu di pulau Jawa lebih dari 40% menjadi pengusaha dan pemiiik industri kecii. dan perusahaan dagang hasii bumi.

Di pulau Bangka mereka sebagai pekerja tambang, sedangkan di Palembang mereka bekerja sebagai tukang di perindustrian, dan mereka yang tinggal di rakit disebut dengan "Cina Rakit". Bermigrasinya orang-orang Tionghoa ke Nusantara (Palembang) berhubungan erat dengan jalur pelayaran tradisionai yang sangat tergantung pada hembusan angin muson, d an menurut Van Leur bahwa jalur pelayaran atau perdagangm

Selain berdampak terhadap perdagangan (perekonomian) juga berdampak terhadap kondisi sosial, budaya dan agama.

BACA JUGA:Misteri Kekuatan Abadi, Kerajaan yang Melewati Ratusan Tahun Tanpa Tertaklukkan oleh Majapahit

Suku Sumatera Selatan Khususnya Suku Palembang banyak Keturunan Tionghoa!

Provinsi Sumatera Selatan terkenal dengan keanekaragaman suku yang tetap mempertahankan tradisi dan adatnya namun tetap hidup berdampingan dengan suku lain.

Kategori :