PAGARALAMPOS.COM - Serial ‘Midnight Mass’ menceritakan horornya memahami ajaran agama secara literal dan fanatisme yang berujung kematian.
Mike Flanagan, sutradara dan pencipta serial horor hits The Haunting of Hill House (2018), sekali lagi menunjukkan dirinya sebagai sineas horor terbaik.
Midnight Mass, serial garapan terbarunya, berhasil membuat takut dengan caranya memaknai nilai-nilai agama secara keliru.
Alih-alih menyoal sekte sesat, Midnight Mass justru menyorot bagaimana satu komunitas mengaminkan ayat-ayat Alkitab dengan cara literal.
Karenanya, umat beragama justru melangkah lebih jauh, bukan semakin dekat dengan Tuhan.
BACA JUGA:Perspektif Pembangunan Sentra Budaya dan Seni Pagaralam
Serial Flanagan kali ini cukup berbeda dengan Hill House (2018) dan The Haunting of Bly Manor (2020), yang kisahnya berpusat pada rumah megah keramat dan keluarga.
Midnight Mass berlatar di sebuah pulau nelayan kecil, Crockett Island, yang penduduknya hanya 127 orang dan ketaatan mereka pada Tuhan.
Sinopsis: Kisah dimulai ketika Riley (Zach Gilford) pulang kembali ke kota asalnya setelah dipenjara karena menabrak seseorang hingga meninggal.
BACA JUGA:Akulturasi Budaya Islam dan Besemah: Saling Melengkapi, Saling Mewarnai
Riley yang sekarang tidak percaya Tuhan harus kembali bersentuhan dengan nilai keagamaan karena tinggal bersama orangtuanya yang taat beragama.
Di saat bersamaan, pulau kecilnya mulai dihantui oleh sesuatu yang mengerikan setelah Pendeta Paul (Hamish Linklater) datang menggantikan Monsinyur Pruitt, satu-satunya pendeta di Crockett Island.
Melihat aspek horornya, karakter Riley yang sering dihantui bayang-bayang perempuan yang dibunuhnya menjadi semacam kekhasan Flanagan berkisah.
Tidak hanya penyampaian narasi puitis tentang hidup dan mati, karakter utamanya juga harus memiliki beban emosional yang digambarkan dalam sosok hantu.
BACA JUGA:Bingkai Budaya, Mengenal Kekayaan 14 Sastra Besemah Lama Warisan Leluhur