Suku Palembang Masih Ada Keturunan Darah China, Bagaimana ceritanya

Minggu 18-06-2023,01:17 WIB
Reporter : Rerry
Editor : Rerry

Hijrah dari Demak (Jawa Tegah) ke Palembang terjadi menyusul adanya konflik berkepanjangan pada keluarga kerajaan. 

Di bawah pimpinan Ki Gede Suro, rombongan trah Demak itu mendarat di Palembang sekitar 1560-an.

Dengan membawa atribut sebagai cucu-cicit Raden Fatah serta Ario Damar, rombongan tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat Palembang yang sudah tumbuh menjadi komunitas Islam.

Kekosongan kekuasaan di Palembang memberi peluang Ki Gede Suro menjadi penguasa di lembah Musi itu, dan berlanjut hingga anak cucunya. 

Dinasti Ki Gede Suro pun membangun kerajaan kecil, hampir seabad kemudian, setelah berhasil mengkonsolidasikan wilayah dan kekuasaan politiknya. 

Pada 1659 Pangeran Ario Kesumo memproklamasikan diri sebagai Sultan Palembang I dengan gelar pertama dibawa Sri Susuhunan Sultan Abdurrahman Khalifat al-Mukminin Sayidil Iman.

BACA JUGA:Berpotensi Longsor Susulan, UPTD Bina Marga Masih Bersihkan Material Longsor

Ketika itu Palembang sudah menjadi bandar yang ramai. 

Palembang hidup dari perdagangan hasil bumi, hutan, dan tambang. Pedagang Arab dan Tionghoa datang. 

Sesuai peraturan yang berlaku ketika itu, para pedagang asing itu diijinkan bermukim di seberang Ulu, di seberang Sungai Musi dari arah Keraton yang kini ada di jantung Kota Palembang, yakti Benteng Kuto Besak.

Para era-era berikutnya, masyarakat lain dari berbagai daerah datang dan bermukim di Palembang dan sebagian datang dari Ranah Minang. Jadilah Palembang sebagai bandar besar dengan budaya khas.

BACA JUGA:3 Universitas Negeri di Palembang Terbaik 2023

Sampai 150 tahun silam, kawasan  hutan alam masih mendominasi alam di  Sumatra Selatan. Jalan darat amat minim. Toh, penetrasi budaya Palembang ke pedalaman berjalan lancar, lewat jalur air. 

Sungai Musi yang panjangnya 720 km itu bisa dilayari sampai 450 km ke pedalaman. Empat Lawang, Tebing Tinggi, Musi Banyuasin, dan Sekayu adalah kota-kota yang dilewati Sungai Musi.

Sungai Musi juga menjadi muara bagi delapan sungai besar lainnya, yakni Sungai Komering, Sungai Rawas, Sungai Leko (disebut juga Batang Hari Leko), Lakitan, Kelingi, Lematang, Lahan (Semangus), dan Sungai Ogan.

Melalui badan Sungai Musi dan kedelapan anak sungainya, budaya Palembang ini tumbuh dan mengakar di antero Sumatra Selatan. Wong Pelembang menjadi identitas mereka semua.

Kategori :