Pemkot PGA

Mengulas Puputan Klungkung: Perlawanan Terakhir yang Membekas dalam Sejarah Bali

Mengulas Puputan Klungkung: Perlawanan Terakhir yang Membekas dalam Sejarah Bali

Mengulas Puputan Klungkung: Perlawanan Terakhir yang Membekas dalam Sejarah Bali-Foto: net -

PAGARALAMPOS.COM – Pada 28 April 1908, Bali mencatat sebuah peristiwa bersejarah yang sarat tragedi, dikenal sebagai Puputan Klungkung.

Dalam suasana penuh tekanan, masyarakat bersama pemimpinnya mengenakan pakaian serba putih dan maju ke medan pertempuran sebagai bentuk perlawanan terakhir terhadap kekuatan kolonial Belanda.

Peristiwa ini tidak sekadar menjadi catatan kelam, tetapi juga melambangkan keberanian, tekad, dan pengorbanan rakyat Bali, termasuk Raja Dewa Agung Jambe II yang memimpin langsung perjuangan tersebut.

Konflik antara Kerajaan Klungkung dan Belanda sebenarnya telah berlangsung sejak lama. Ketegangan mencapai titik puncak pada April 1908, saat pasukan kolonial memasuki wilayah kerajaan tanpa izin. Tindakan ini memicu kemarahan dan perlawanan dari masyarakat setempat.

BACA JUGA:Desain Teras Rumah Klasik yang Memberi Kesan Mewah dan Grand!

BACA JUGA:Vespa Sprint S Intrepedo 2026 Resmi Hadir! Skuter Sporty 154 cc dengan Desain Berani dan Lampu Full LED!

Bentrok pun terjadi di wilayah Gelgel, di mana pasukan Klungkung melancarkan serangan yang menyebabkan korban di pihak Belanda. Insiden ini kemudian dijadikan alasan oleh pemerintah kolonial untuk mengerahkan kekuatan militer yang lebih besar.

Belanda lalu mengeluarkan ultimatum agar pihak kerajaan menyerah. Namun, Dewa Agung Jambe II menolak tunduk. Meski menyadari keterbatasan senjata, ia bersama rakyatnya memilih bertahan demi menjaga kedaulatan.

Pasukan Klungkung hanya mengandalkan senjata tradisional, sementara Belanda dilengkapi persenjataan modern seperti meriam. Serangan besar pun dilancarkan, termasuk pengeboman pusat kerajaan di Semarapura yang berlangsung selama beberapa hari.

Keadaan semakin sulit ketika pasukan tambahan Belanda tiba dan memperketat pengepungan. Dalam pertempuran tersebut, sejumlah tokoh penting kerajaan gugur saat berusaha mempertahankan istana.

BACA JUGA:7 Ide Meja Sudut untuk Ruang Tamu Kecil, Bikin Ruangan Terlihat Lebih Luas dan Rapi!

Di tengah situasi genting, sang raja memilih jalan kehormatan sebagai seorang ksatria. Ia memimpin langsung rakyatnya dalam pertempuran terakhir melawan pasukan kolonial.

Pada hari penentuan, ratusan pejuang Bali gugur di medan laga. Dewa Agung Jambe II pun wafat bersama rakyatnya, menandai runtuhnya kekuasaan Kerajaan Klungkung di tangan Belanda.

Walau secara militer mengalami kekalahan, Puputan Klungkung justru dikenang sebagai simbol keberanian, harga diri, dan semangat juang masyarakat Bali.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait